Kamis, 21 April 2016

Laporan Keuangan penjualan

TUGAS KEWIRAUSAHAAN
LAPORAN KEUANGAN USAHA TAS DAN BAJU TIDUR



Disusun Oleh :
IKA AMBARSARI


Kelas                           : 2SA10
Jurusan                        : S1 Sastra Inggris
Mata Kuliah                : Kewirausahaan 1
Dosen                          : Rooswan Budi Utomo



Universitas Gunadarma

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perekonomian suatu negara merupakan indikator kemajuan dan kesejahteraan negara tersebut. Suatu negara dikatakan negara maju jika perekonomiannya kuat dan stabil dengan didukung pendapatan per kapita yang tinggi setiap tahunnya. Di negara-negara maju perekonomian ditopang oleh banyaknya wiraswasta dan wirausaha. Mereka memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian negaranya.
Berbeda dengan negara berkembang seperti Indonesia yang masih sedikit jumlah wiraswasta dan wirausaha yang dimiliki sehingga pendapatan perkapitanya relatif rendah, masih sedikitnya usaha dalam negeri yang berkembang dan tingginya ketergantungan kepada negara lain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.
Wiraswasta dan wirausaha perlu dikembangbiakkan di negara berkembang karena kontribusi mereka sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan negara. Sebagai contoh di negara maju seperti negara Eropa, wiraswasta dan wirausaha telah banyak menciptakan lapangan pekerjaan baru lewat inovasi mereka dan hal ini mengakibatkan berkurangnya pengangguran serta meningkatnya kesejahteraan negara tersebut.
Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan kegiatan wirausaha menjadi sangat penting dilakukan sejak dini agar meningkatkan semangat berwirausaha generasi muda sehingga diharapkan akan banyak kelahiran wirausaha muda, mandiri yang kreatif dan inovatif di masa mendatang.

B. TUJUAN
  1. Melatih diri dalam menumbuhkan jiwa entrepreneur pada mahasiswa/i.
  2. Belajar berwirausaha.
  3. Memanfaatkan peluang yang ada.

C.PELAKSANAAN KEGIATAN
Usaha ini dilaksanakan secara kontinyu seminggu sekali dalam jangka waktu dua bulan mulai dari tanggal 16 februari 2016 sampai dengan tanggal 04 april 2016. Tempat yang kami pilih untuk melaksanakan usaha ini adalah lingkungan sekitar, yang berlokasi di perumahan bonana permai RW. 004 tangerang - pasar kemis.  






PEMBAHASAN
A. JENIS DAN PEMILIHAN PRODUK
  1. JENIS PRODUK
Jenis produk yang kami jual adalah tas dan baju tidur, yaitu tas yang bermerek charles and keith ada juga tas yang lainnya, dan baju tidur berbahan satin.

 2. ALASAN PEMILIHAN PRODUK :
Masyarakat Indonesia sangat menggemari tas dan baju tidur. Tas dan baju tidur merupakan yang sering dikoleksi dan banyak disukai. Selain itu, di kampus banyak mahasiswa yang mengunakan tas tersebut dan di kalangan rumah banyak yang menggunakan baju tidur tersebut. Kami melihat peluang untuk menjual tas dan baju tidur di lingkungan perumahan karena belum ada yang menjual tas dan baju tidur tersebut di sekitar area perum bonana permai.

B. STRATEGI PROMOSI DAN PEMASARAN
Berhubung kami berjualan di dalam perumahana jadi strategi promosi dan pemasaran kami lakukan secara langsung yaitu dengan stand by dirumah dan keliling perumahan : menawarkan secara langsung produk kami kepada calon pembeli di setiap rumah atau pembeli di luar perumahan seperti tempat anak – anak sekolah TK karena banyak sekali ibu - ibu yang duduk santai sambil menunggu anaknya selesai sekolah. Selain itu, kami juga menawarkan produk kami via social media pada teman-teman yang kami kenal.

C. LAPORAN KEUANGAN
  1. Modal Awal Rp 4.000,000-
  2. Harga Produk Awal untuk tas / barang  Rp. 335.000,-
  3. Harga produk Awal untuk baju tidur / barang  Rp. 35.000,-
Harga Jual Produk tas / barang                                         Rp   335.000,-
Harga jual produk baju tidur / barang                               Rp. 35.000
4.      Penjualan
No.
Keterangan
Qty
Masuk
Keluar
Saldo
1.
Modal Awal
Rp 4.000.000
Rp   4.000.000
2.
Pembelian tas
12 pcs
Rp 3.000.000
Rp   1.000.000
3.
Penjualan pertama tas
2 pcs
Rp .670.000
Rp   1.670.000
4.
Pembelian baju tidur
40 pcs
Rp 1.000.000
Rp   670.000
5.
Penjualan pertama baju tidur
5 pcs
Rp 175.000
Rp   845.000
6.
Penjualan kedua tas
 1 pcs
Rp 335.000
Rp   1.180.000
7.
Penjualan kedua baju tidur
3 pcs
Rp 105.000
Rp 1.285.000
8.
Penjualan ketiga baju tidur
8 pcs
Rp 280.000
Rp 1.565.000
9.
Penjualan ketiga tas
3 pcs
Rp 1.005.000
Rp 2.570.000
10.
Penjualan keempat tas
2 pcs
Rp 670.000
-
Rp 3.240.000
11.
Penjualan keempat baju tidur
10 pcs
Rp 350.000
-
Rp 3.590.000
12.
Penjualan kelima tas
2 pcs
Rp. 670.000
-
Rp. 4.260.000
13.
Penjualan keenam tas
2 pcs
Rp. 670.000
-
Rp. 4.930.000
14.
Penjualan kelima baju tidur
4 pcs
Rp. 140.000
-
Rp.5.070.000
15.
Penjualan keenam baju tidur
3 pcs
Rp. 105.000
-
Rp. 5.175.000
16.
Penjualan ketujuh baju tidur
2 pcs
Rp. 70.000
-
Rp. 5.245.000
17.
Penjualan kedelapan baju tidur
3 pcs
Rp. 105.000
-
Rp. 5.350.000
18.
Penjualan kesembilan baju tidur
2 pcs
Rp. 70.000
-
Rp. 5.420.000
Total
52 pcs
Rp. 9.420.000
Rp 4.000.000
Rp. 5.420.000
  1. Total Penjualan
Tas : 12 pcs x Rp 335.000,-                                       Rp. 4.020.000
Baju tidur : 40 pcs x Rp. 35.000,-                              Rp. 1.400.000   +
Total                                                                            Rp. 5.420.000
  1. Laba – Rugi
Penjualan                       Rp 5.420.000
Modal                            Rp   4.000.000 +
Pendapatan                                                        Rp 9.420.000
Pengeluaran                                                       Rp 4.000.000 –
Laba Bersih                                                        Rp 5.420.000
D. KENDALA
  1. Kami agak sulit menyesuaikan waktu untuk memasarkan produk karena padatnya jam kuliah.
  2. Persaingan dengan pedagang tas yang lain dan baju tidur yang lain jenisnya hampir sama seperti produk kami tas dan baju tidur.
  3. Pemilihan timing (waktu) yang tepat untuk menjajakan produk pada calon pembeli yang berbenturan dengan jam kuliah.
PENUTUP
KESIMPULAN
Berwirausaha adalah suatu kegiatan yang memerlukan sikap dan mental yang kuat serta keberanian untuk menawarkan produk yang kita miliki pada orang lain ataupun mengambil resiko. Hal ini menunjukkan bahwa softskill sangat diperlukan dalam berwirausaha. Selain itu, usaha juga memerlukan kreasi dan inovasi dari Sang Entrepreneur untuk menghadapi berbagai macam rintangan dalam usaha. Seorang entrepreneur sejati akan selalu mencoba menciptakan inovasi, merealisasikan kebutuhan konsumen dari produknya serta melakukan pengaturan manajemen dan promosi yang baik untuk dapat tetap eksis di antara persaingan yang semakin ketat.
SARAN
Saran yang dapat kami berikan dari kegiatan ini adalah timing yang tepat untuk menawarkan suatu produk tas dan baju tidur sangat diperlukan, Kami berharap agar kegiatan saya ini tetap berjalan. karena sangat bermanfaat untuk melatih skill mahasiswa dan memberikan bekal pengalaman sebelum terjun langsung ke dunia bisnis.


Senin, 07 Desember 2015

Diskriminasi dan perkembangan teknoogi dalam ilmu sastra

      Pengertian diskriminasi dalam ruang lingkup hukum hak asasi manusia Indonesia (human rights law) dapat dilihat dalam Pasal 1 Ayat (3) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”.
1.      Adanya persaingan yang semakin ketat dalam berbagai bidang kehidupan.
2.      Adanya tekanan dan intimidasi yang biasanya dilakukan oleh kelompok yang dominan terhadap kelompok atau golongan yang lebih lemah.
3.      Ketidakberdayaan golongan miskin akan intimidasi yang mereka dapatkan membuat mereka semakin terpuruk dan menjadi korban diskriminasi.
Ketiga faktor tersebu adalah penyebab kenapa diskriminasi selalu ada dan semakin menjadikan masyarakat yang terdiskriminasi mejdai terpuruk kedalam jurang diskriminasi.

CONTOH KASUS :
JAKARTA, KOMPAS.com — Identitas keberagaman di Indonesia terus diuji dengan beragam tindakan diskriminasi. Selama 14 tahun setelah reformasi, setidaknya ada 2.398 kasus kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di Indonesia. Yayasan Denny JA mencatat, dari jumlah itu paling banyak kekerasan terjadi karena berlatar agama/paham agama sebanyak 65 persen. Sisanya, secara berturut-turut adalah kekerasan etnis (20 persen), kekerasan jender (15 persen), dan kekerasan orientasi seksual (5 persen).

“Semenjak reformasi, diskriminasi yang terjadi lebih bersifat priomordial, komunal, bukan seperti diskriminasi ideologi yang terjadi pada masa Orde Baru,” ujar Direktur Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar, Minggu (23/12/2012), dalam jumpa pers di Kantor Lingkaran Survei Indonesia (LSI), di Jakarta.

Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, Yayasan Denny JA mendata setidaknya ada lima kasus diskriminasi terburuk pasca 14 tahun reformasi. Kelima kasus itu dinilai terburuk berdasarkan jumlah korban, lama konflik, luas konflik, kerugian materi, dan frekuensi berita. Setiap variabel diberikan nilai 1-5 kemudian dikalikan dengan bobot masing-masing variabel. Pembobotan skor 50 diberikan pada variabel jumlah korban, skor 40 untuk lamanya konflik, skor 30 untuk luas konflik, skor 20 untuk kerugian materi, dan skor 10 untuk frekuensi berita. Hasilnya, konflik Ambon berada di posisi teratas, yakni dengan nilai 750, kemudian diikuti konflik Sampit (520), kerusuhan Mei 1998 (490), pengungsian Ahmadiyah di Mataram (470), dan konflik Lampung Selatan (330).

“Lima konflik terburuk ini setidaknya telah menghilangkan nyawa 10.000 warga negara Indonesia,” ucap Novriantoni.

Konflik Maluku menjadi konflik kekerasan dengan latar agama yang telah menelan korban terbanyak, yakni 8.000-9.000 orang meninggal dunia, dan telah menyebabkan kerugian materi 29.000 rumah terbakar, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintahan, dan 4 bank hancur. Rentang konflik yang terjadi juga yang paling lama, yakni sampai 4 tahun.

Sementara konflik Sampit yang berlatar belakang etnis, yakni antara Dayak dan Madura, telah menyebabkan 469 orang meninggal dunia dan 108.000 orang mengungsi. Rentang konfliknya pun mencapai 10 hari. Konflik kerusuhan di Jakarta yang terjadi pada 13-15 Mei 1998 juga tidak kalah hebatnya. Konflik ini menelan korban 1.217 orang meninggal dunia, 85 orang diperkosa, dan 70.000 pengungsi. Meski hanya berlangsung tiga hari, kerugian materi yang ditimbulkan mencapai sekitar Rp 2,5 triliun.

Konflik Ahmadiyah di Transito Mataram telah menyebabkan 9 orang meninggal dunia, 8 orang luka-luka, 9 orang gangguan jiwa, 379 terusir, 9 orang dipaksa cerai, 3 orang keguguran, 61 orang putus sekolah, 45 orang dipersulit KTP, dan 322 orang dipaksa keluar Ahmadiyah. Meski tidak menimbulkan korban jiwa yang besar, konflik ini mendapat sorotan media cukup kuat dan rentang peristiwa pascakonflik selama 8 tahun yang tak jelas bagi nasib para pengungsi.

Konflik kekerasan yang terjadi di Lampung Selatan telah menimbulkan korban 14 orang meninggal dunia dan 1.700 pengungsi. “Secara keseluruhan, negara terlihat mengabaikan konflik-konflik yang sudah terjadi pelanggaran HAM berat. Dalam beberapa kasus bahkan tidak ada pelaku atau otak pelaku kekerasan yang diusut.

contoh teknologi bagi ilmu sastra :

Di zaman modern ini, teknologi surah semakin canggih. Semua orang bisa mengakses apapun yang mereka inginkan. Perkembangan teknologi sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satu contohnya dibidang sastra.
Perkembangan teknologi didunia sastra bisa sebagai sarana untuk mempromosikan, mempublikasikan, memberikan informasi hasil karya seseorang, sehinggua dapat dilihat dan dihargai. Bagi mereka yang tak sempat membeli buku, mereka bisa membaca secara online dengan mengunjungi website penulis dalam negeri atau luar negeri yang mereka inginkan sehingga dapat mengefesienkan waktu yang mereka miliki. Disamping itu, para pembaca pula bisa menuliskan komentar saran atau kritik terkait yang mereka telah baca, dan penulis tentunya akan mengetahui kekurangan atau kelebihan karya mereka sendiri.




nama : ika ambarsari
kelas : 2sa10
Npm : 15614124


Senin, 23 November 2015

Kesenjangan Sosial

      Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan ketidak seimbangan sosial yang ada di masyarakat, yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok.
      Kesenjangan sosial terjadi karena beberapa faktor. Dari segi ekonomi, Kemiskinan menjadi salah satu faktor yang mendominasi terjadinya kesenjangan sosial. Banyak orang menganggap bahwa kemiskinan merupakan suratan takdir, padahal sebagian kecil penyebab kemiskinan adalah hasil dari sifat malas, tidak kreatif dan etos kerja yang rendah. Lain lagi jika kita melihat dari segi sosial. Perbedaan status sosial dapat menjadi alasan mengapa kesenjangan sosial itu terjadi. Status sosial muncul karena adanya pengelompokkan strata atau kedudukan. Hal itu dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya kedudukan antara si kaya dan si miskin, si pintar dan si bodoh, majikan dan pembantu, bos dan karyawan, kuli dan mandor, dsb.
        Nah, jika dari segi politik, masih banyak aparat pemerintah dan penegak hukum yang enggan mendengarkan suara rakyat kecil. Salah satu contohnya adalah diskriminasi tahanan kasus pidana antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya yang terlibat kasus korupsi mendapatkan masa tahanan yang relatif sebentar dibanding masa tahanan kasus2 lain. Fasilitas yang diterima juga terbilang mewah dan bebas keluar masuk rumah tahanan sesuka yang dia mau. Sementara seorang miskin yang terlibat kasus kasus pidana kecil seperti mencuri sendal di masjid atau dua biji kakao di kebun tetangga dijerat dengan masa tahanan yang lama dan ruang tahanan yang seharusnya.
         Kesenjangan sosial semakin hari semakin memprihatinkan, khususnya di lingkungan perkotaan. Bahkan ada yang bilang yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Tentu saja hal ini membawa banyak dampak negatif kepada masyarakat kita, sebagian kecil contohnya adalah melemahnya wirausaha. Kesenjangan sosial menjadi penghancur minat ingin memulai usaha, penghancur keinginan untuk terus mempertahankan usaha, bahkan penghancur semangat untuk mengembangkan usaha untuk lebih maju. Hal ini terjadi karena seorang wirausaha selalu di anggap remeh dalam masyarakat.
         Dampak lain yaitu bisa terjadinya kriminalitas. Banyak rakyat miskin yang terpaksa menghalalkan segala cara untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, hal itu disebabkan karena kondisi sosial ekonomi yang bermasalah. Oleh sebab itu masyarakat terdorong untuk melakukan berbagai macam tindakan kriminal seperti mencuri, merampok, berjudi, penodongan, penjambretan, dll.

         Kesenjangan sosial meyebabkan seseorang yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Seseorang yang mempunyai kekuatan sosial dan ekonomi yang besar akan berupaya untuk bisa lebih menguasai sesuatu dengan cara melebarkan sayap kekuasaan mereka. Hal tersebut membuat rakyat miskin semakin tertindas karena mereka tidak mempunyai kemampuan apapun untuk melawan. Sebagai contoh : maraknya pembangunan mal-mal dikota besar, pembangunan swalayan dikota-kota kecil sedikit - demi sedikit akan mematikan omset pedagang di pasar tradisional.
         Dari cerita diatas, jelaslah bahwa kesenjangan sosial itu terjadi karena diri kita sendiri. Padahal kita sering mengeluhkan penyamaratakan dan tidak membedakan status sosial. Oleh karena itu mulailah dari diri kita dan dari sekarang, kita hilangkan perilaku buruk tersebut agar masalah kesenjangan sosial dapat kita atasi bahkan kita hilangkan. Agar nantinya kesenjangan sosial  tidak ada lagi di Indonesia.
          Dan bagaimana mengatasi kesenjangan tersebut ? itu dari kita sendiri yang jangan pernah membedakan si kaya, si miskin, si kuli, dan si mandor. Coba berbaur kesemua kalangan daan jangan oernah menyinggung atau membuat sebuah komunitas yang bisa membuat ada perantaran di sekitaar kita. 


Sumber :
Rafifah-oktarinda, kamis 17 oktober 2013

Nama : Ika Ambarsari
Kelas : 2SA10
Npm : 15614124

Selasa, 10 November 2015

STRATIFIKASI SOSIAL

A.    PENGERTIAN

            Stratifikasi Sosial berasal dari kata strata atau tingkatan. Stratifikasi Sosial adalah struktur dalam masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan. Ukuran yang dipakai bisa kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan. Ahli sosiologi, Max Weber menyebutkan bahwa kekuasaan, hak istimewa dan prestiselah yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi sosial. Sedikit berbeda, Cuber menyebutkan bahwa hak-hak individual yang berbeda menjadi penyebab kemunculan stratifikasi sosial.
Hadirnya ketidaksamaan dalam hal jumlah harta, kekayaan, jenjang pendidikan, asal usual keturunan dan kekuasaan membuat manusia dapat disusun secara hirarkis/bertingkat. Ada yang berada di at as dan ada juga menempati posisi terbawah. Baik pada masyarakat modern maupun masyarakat traditional, keduanya memiliki system stratifikasi sosial yang unik.
Menurut sifatnya, stratifikasi sosial dibedakan atas :

a. Stratifikasi sosial tertutup

            Stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan terjadinya perpindahan posisi atau yang disebut mobilitas sosial. Seseorang yang menjadi anggota dan berada pada lapisan terendah tidal mungkin untuk naik ke posisi yang lebih atas lagi. Ini biasanya terjadi pada system stratifikasi masyarakat traditional, seperti sistem kasta di India. Seorang dari kasta Sudra tidak dapat menjadi anggota kasta Brahmana dan sejenisnya. Sistem kasta yang ada di Indonesia (Bali) tidak seketat seperti yang ada di India.

b. Stratifikasi sosial terbuka

            Stratifikasi yang mengizinkan adanya mobilitas, baik naik ataupun turun. Biasanya stratifikasi sosial semacam ini tumbuh pada masyarakat modern. Misalnya, pembantu rumah tangga yang kemudian menjadi seorang pengusaha sukses.
Bentuk-bentuk mobilitas sosial :

1. Mobilitas sosial horizontal

            Pada mobilitas sosial horizontal, perpindahan yang terjadi tidak mengakibatkan berubahnya status dan kedudukan individu yang melakukan mobilitas. Contoh : Pak Kardi yang memutuskan untuk menjadi sopir bus dan kemudian menjadi sopir Angkot.

2. Mobilitas sosial vertikal

            Mobilitas yang terjadi mengakibatkan terjadinya perubahan status dan kedudukan individu. Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi :

 - Vertikal naik
            Individu menjadi naik status dan kedudukannya setelah menjalani mobilitas. Contohnya, seorang pengamen jalanan yang menjadi penyanyi rekaman.

- Vertikal turun
            Status dan kedudukan individu turun setelah terjadinya mobilitas tipe ini. Contohnya, seorang pengusaha sukses yang kemudian bangkrut dan menjadi narapidana.

3. Mobilitas antargenerasi

            Ini bisa terjadi apabila melibatkan dua orang (individu) yang berasal dari dua generasi yang berbeda. Contohnya, Tania anak seorang tukang becak di Medan kemudian sukses menjadi pengusaha di ibukota.

c. Stratifikasi sosial campuran

            Hal ini bisa terjadi jika stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup. Anggotanya kemudian menjadi anggota dua stratifikasi sekaligus, dan ia juga mesti menyesuaikan sistem stratifikasi sosial tertutup yang sudah lama dianutnya dengan stratifikasi sosial yang baru ia kenal.
Menurut dasar ukurannya, stratifikasi sosial dibagi menjadi :

a. Dasar ekonomi
            Berdasarkan status ekonomi yang dimilikinya, masyarakat dibagi menjadi :

1. Golongan Atas

            Termasuk golongan ini adalah orang-orang kaya, pengusaha, penguasa, atau orang yang  memiliki penghasilan yang besar.

2. Golongan Menengah

            Golongan menengah terdiri dari pegawai kantor, petani pemilik lahan dan pedagang.

3. Golongan Bawah

            Golongan yang berada dalam posisi terendah ini terdiri atas buruh tani.

b. Dasar pendidikan

            Stratifikasi sosial ini timbul sebagai akibat dari adanya perbedaan tingkat pendidikan masyarakat. Orang yang berpendidikan rendah menempati posisi terendah, berturut-turut hingga orang yang memiliki pendidikan tinggi.

c. Dasar kekuasaan

            Stratifikasi jenis ini berhubungan erat dengan wewenang atau kekuasaan yang dimiliki seseorang. Semakin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi strata sosialnya. Penggolongan yang paling jelas tentang stratifikasi sosial berdasarkan kekuasaan terlihat dalam dunia politik.

Dampak adanya stratifikasi sosial adalah sebagai berikut :
a. Dampak positif

            Stratifikasi sosial dapat berdampak positif. Orang yang berada pada lapisan bawah akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya untuk kemudian mengadakan mobilitas naik ke strata yang lebih tinggi.

b. Dampak negatif

            Stratifikasi bisa berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari masyarkat. Contohnya terlihat pada kebiasaan berbusana kaum wanita. Kaum wanita kelas atas akan cenderung memakai karya perancang mode terkenal dari Paris, New York, London atau Roma.



B. SISTEM KASTA DI BALI

            Dalam agama Hindu, istilah Kasta disebut dengan Warna (Sanskerta:
वण; varṇa). Akar kata Warna berasal dari bahasa Sanskerta vrn yang berarti "memilih (sebuah kelompok)". Dalam ajaran agama Hindu, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Dalam konsep tersebut diuraikan bahwa meskipun seseorang lahir dalam keluarga Sudra (budak) ataupun Waisya (pedagang), apabila ia menekuni bidang kerohanian sehingga menjadi pendeta, maka ia berhak menyandang status Brahmana (rohaniwan). Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu.

            Dalam tradisi Hindu, Jika seseorang ahli dalam bidang kerohanian maka ia menyandang status Brāhmana. Jika seseorang ahli atau menekuni bidang administrasi pemerintahan ataupun menyandang gelar sebagai pegawai atau prajurit negara, maka ia menyandang status Ksatriya. Apabila seseorang ahli dalam perdagangan, pertanian, serta profesi lainnya yang berhubungan dengan niaga, uang dan harta benda, maka ia menyandang status Waisya. Apabila seseorang menekuni profesi sebagai pembantu dari ketiga status tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya), maka ia menyandang gelar sebagai Sudra.
Brahmana merupakan golongan pendeta dan rohaniwan dalam suatu masyarakat, sehingga golongan tersebut merupakan golongan yang paling dihormati. Dalam ajaran Warna, Seseorang dikatakan menyandang gelar Brahmana karena keahliannya dalam bidang pengetahuan keagamaan. Jadi, status sebagai Brahmana tidak dapat diperoleh sejak lahir. Status Brahmana diperoleh dengan menekuni ajaran agama sampai seseorang layak dan diakui sebagai rohaniwan.  Ksatriya merupakan golongan para bangsawan yang menekuni bidang pemerintahan atau administrasi negara.

            Ksatriya juga merupakan golongan para kesatria ataupun para Raja yang ahli dalam bidang militer dan mahir menggunakan senjata. Kewajiban golongan Ksatriya adalah melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Apabila golongan Ksatriya melakukan kewajibannya dengan baik, maka mereka mendapat balas jasa secara tidak langsung dari golongan Brāhmana, Waisya, dan Sudra.  Waisya merupakan golongan para pedagang, petani, nelayan, dan profesi lainnya yang termasuk bidang perniagaan atau pekerjaan yang menangani segala sesuatu yang bersifat material, seperti misalnya makanan, pakaian, harta benda, dan sebagainya. Kewajiban mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra.

            Sudra merupakan golongan para pelayan yang membantu golongan Brāhmana, Kshatriya, dan Waisya agar pekerjaan mereka dapat terpenuhi. Dalam filsafat Hindu, tanpa adanya golongan Sudra, maka kewajiban ketiga kasta tidak dapat terwujud. Jadi dengan adanya golongan Sudra, maka ketiga kasta dapat melaksanakan kewajibannya secara seimbang dan saling memberikan kontribusi.  Sistem kerja Catur Warna menekan seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Golongan Brahmana diwajibkan untuk memberi pengetahuan rohani kepada golongan Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Golongan Ksatriya diwajibkan agar melindungi golongan Brahmana, Waisya, dan Sudra. Golongan Waisya diwajibkan untuk memenuhi kebutuhan material golongan Brahmana, Ksatriya, dan Sudra. Sedangkan golongan Sudra diwajibkan untuk membantu golongan Brahmana, Ksatriya, dan Waisya agar kewajiban mereka dapat dipenuhi dengan lebih baik.
Keempat golongan tersebut (Brahmana, Ksatriya, Waisya, Sudra) saling membantu dan saling memenuhi jika mereka mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam sistem Caturwarna, ketentuan mengenai hak tidak diuraikan karena hak diperoleh secara otomatis. Hak tidak akan dapat diperoleh apabila keempat golongan tidak dapat bekerja sama.

BAHASA

            Anggota dari empat kasta menggunakan berbagai dialek bahasa bali untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari kasta yang berbeda. Bahasa Bali Madya umumnya digunakan untuk berbicara dengan orang-orang yang kastanya belum diketahui, untuk menghindari kemungkinan ketidak hormatan ketika berbicara.
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional, seperti yang sudah dikenal Bahasa Indonesia banyak diajarkan di sekolah-sekolah, dapat menyederhanakan komunikasi ke tingkatan kasta namun jika berbicara berbahasa Bali maka dialek yang benar harus digunakan untuk setiap kasta yang berbeda.




NAMA

            Setiap kasta memiliki nama yang unik, dan kadang juga membingungkan dimana anak laki-laki dan perempuan menggunakan nama yang sama. Untuk membedakannya antara pria dan wanita dengan nama yang sama, anak laki-laki akan menggunakan kata "i" sebelum nama mereka dan anak perempuan mereka menggunakan kata "Ni" sebelum nama mereka.

a. Brahmana (Pendeta)

            Ini merupakan kasta para pemuka agama dan orang suci yang melakukan upacara keagamaan yang sangat penting.
Ida Bagus - untuk anak laki-laki
Ida Ayu or Dayu - untuk anak perempuan

b. Ksatria (penguasa / ksatria)

            Anggota kasta ini mencangkup beberapa bangsawan dan raja (contohnya. Anggota keluarga kerajaan)
Anak Agung, Agung, Dewa - untuk anak laki-laki
Anak Agung, Agung, Dewi, Dewayu - untuk anak perempuan
Cokorda, Dewa Agung untuk anggota kerajaan yang berkuasa.
Kasta Ksatria juga memiliki nama tengah sebagai berikut :
Raka - saudara perempuan/lakui-laki tertua
Oka - bungsu
Rai - saudara perempuan/laki-laki termuda
Anom - perempuan muda
Ngurah - seseorang yang berwenang

c. Wesia (pedagang)

Gusti (tuan) - untuk laki-laki dan perempuan
Dewa - untuk laki-laki
Desak - untuk perempuan

d. Sudra (petani)

            Merupakan populasi paling banyak (lebih dari 90%) di Bali memiliki kasta ini
Wayan, Putu, Gede -  anak pertama laki-laki
Wayan, Putu, Iluh -  anak pertama perempuan
Made, Kadek, Nengah - anak kedua untuk laki-laki dan perempuan
Nyoman, Komang - anak ketiga untuk laki-laki dan perempuan
Ketut - anak keempat untuk laki-laki dan perempuan


Sumber :

Ketut Wiana dan Raka Santeri, Kasta dalam Hindu – kesalahpahaman selama berabadabad. Penerbit: Yayasan Dharma Naradha. ISBN 979-8357-03-5

I Gusti Agung Oka, Slokantara. Penerbit: Hanumān Sakti, Jakarta.